Sunday, March 15, 2015

SURAT PERSETUJUAN BERLAYAR (SPB/SIB)
Indonesia merupakan negara kepulauan, dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia setelah Kanada, memiliki sumberdaya ikan yang sangat besar. Guna memanfaatkan sumberdaya tersebut tentunya diperlukan sarana dan prasarana seperti kapal perikanan dan pelabuhan perikanan.
            Dalam pengoperasian kapal perikanan, aspek keselamatan tentunyan menjadi salah satu yang sangat penting. Keselamatan tidak hanya mencakup jiwa manusia dan kapal perikanan semata tetapi juga dengan tetap memperhatikan kelestarian sumberdaya ikan dan lingkungan laut.
            Dalam rangkap keselamatan operasional kapal perikanan, setiap kapal perikanan yang akan berlayar melakukan penangkapan ikan dana atau pengangkutan ikan, wajib memiliki Surat Persetujuan Berlayar (SPB) yang dikelauarkan oleh SYahbandar di Pelabuhan Perikanan.
            Setiap kapal perikanan yang akan berlayar melakukan penangkapan ikan da/atau pengangkutan ikan dari pelabuhan perikanan wajib memiliki SPB yang dikeluarkan oleh Syahbandar di Pelabuhan Perikanan. Prosedur penerbitan SPB kapal perikanan yang akan berlayar dalam rangka melakukan usaha penangkapan ikan dan atau pengangkutan ikan dilaksanan sebagai berikut :
A.    Permohonan
1.    Pemilik atau Nakhoda, atau pengurus kapal perikanan, mengajukan permohonan penerbitan SPB kapal perikanan kepada Syahbandar di Pelabuhan Perikanan menggunakan format FORM 1.
2.    Permohonan sebagaimana dimaksud pada angka 1 di atas, dilampiri dengan
1)    Surat Pernyataan dari Nakhoda kapal perikanan tentang pemberangkaran kapal perikanan (Form 2).
2)    Tanda bukti pemenuhan kewajiban kapal perikanan, antara lain :
-          Bukti pembayaran jasa kepelabuhanan
-          Bukti pembayaran retribusi lelang ikan
-          Persetujuan bea dan cukai
-          Persetujuan imigrasi
-          Persetujuan karantina kesehatan, dan
-          Persetujuan karantina ikan
3)    Surat Laik Operasional (SLO) kapal perikanan
4)    Surat Tanda Bukti Lapor Kedatangan Kapal (STBLKK) dan
5)    Daftar awak kapal

B.    Pemeriksaan Administrasi dan Pemeriksaan Fisik
1.    Pemeriksaan Administrasi
Syahbandar di Pelabuhan Perikanan atau petugas kesyahbandaran di pelabuhan perikanan wajib melakukan pemeriksaan administrative sescara cermat atas dokumen yang dilampirkan, dengan menggunakan format Form 3.
Syahbandar di Pelabuhan Perikanan menyampaikan secara tertulis hasil permeriksaan administrative kepada pemilik atau Nakhoda kapal perikanan apabila persyaratan administrative belum lengkap.
2.    Pemeriksaan Fisik
a.    Pemeriksaan fisik dilakukan setelah persyaratan administrated terpenuhi
b.    Syahbandar di Pelabuhan Perikanan melakukan pemeriksaan fisik kapal dan alat penangkapan ikan untuk mengetahui telah dipenuhinya persyaratan nautis dan teknis kapal perikanan
c.    Pemeriksaan meliputi : kondisi nautis-teknis dan radio kapal perikanan; dan alat bantu penangkapan ikan sesuai dengan keterangan yang disebutkan dalam surat pernyataan kesiapan kapal perikanan berangkat dari Nakhoda.
d.    Syahbandar di Pelabuhan Perikanan melakukan pemeriksaan fisik dengan menggunakan format (FORM 5) :
-          Jenis alat penangkapan ikan
-          Jumlah alat penangkapan ikan
-          Spesifikasi alat penangkapan ikan
-          Spesifikasi alat bantu penangkapan ikan
-          Spesifikasi mesin bantu penangkapan ikan
-          Tanda pengenal kapal perikanan
-          Tanda pengenal kapal perikanan
-          Tanda selar atau nomor pendaftara kapal perikanan
-          Kelaikan kapal perikanan
-          Permesinan dan perlistrikan
-          Peralatan pencegahan pencemaran
-          Alat komunikasi
-          Peralatan navigasi
-          Peta dan perlengkapannya
-          Alat keselmatan
-          Alat pemadam kebakaran
-          Palkah ikan dan mesin pendingin
e.    Syahbandar melakukan laporan tertulis
f.     Syahbandar di Pelabuhan Perikanan mengeluarkan SPB apabila persyaratan administratif dan pemeriksaan fisil kapal perikanan telah di penuhi.

PENERBITAN SPB
-          Apabila semua persyaratan telah dipenuhi
-          SPB kapal perikanan berlaku selama 24 jam sejak dterbitkan

PENUNDAAN PENERBITAN SPB
            Penerbitan SPB kapal perikanan dapat ditunda apabila :
-          Tidak memenuhi persyaratan
-          Kondisi cuaca buruk
-          Nakhoda tersangkut masalah hokum
-          Nakhoda tidak berada di kapal perikanan yang akan berlayar
-          Jumlah dan nama awak kapal tidak sesuai dengan daftar awak kapal
-          Masuk dalam daftar kapal IUU Fishing;
-          Atas perintah pengadilan
Pemilik atau Nakhoda, atau pengurus kapal perikanan wajib mengajukan permohonan ulang SPB kapal perikanan apabila penundaan keberangkatan kapal perikanan melebihi waktu 24 jam, dengan melampirkan alas an penundaan keberangkatan.

PEMBEBASAN SPB
            Dibebaskan dari kewajiban memiliki SPB kapal perikanan, bagi kapal perikanan yang berlayar dalam batas WKOPP:
-          Kapal perikanan yang menuju galangan kapal
-          Kapal perikanan yang akan mengisi BBM
-          Kapal perikanan untuk tujuan memberikan pertolongan terhadap kapal yang dalam keadaan kapal yang dalam bahaya dan
-          Kapal perikanan yang melakukan uji coba berlayar.
Untuk pembebasan kapal perikanan sebagaimana dimaksud diatas, pemilik atau nakhoda atau pengurus kapal perikanan mengajukan permohonan pembebasan SPB kapal perikanan kepada Syahbandar di Pelabuhan perikanan.

.
SUMBER :
Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap KKP, 2012. Petunjuk Pelaksanaan Penerbitan Surat Persetujuan Berlayar Kapal Perikanan. Jakarta.




No comments:

Post a Comment

Sambal Tuna Dalam Botol

Sambal adalah olahan turunan dari bahan baku cabe yang dicampur dengan bahan lain dan ikan juga bisa de...