Monday, July 31, 2017

TERASI IKAN

TERASI IKAN



Terasi merupakan produk ikan setengah basah yang dibuat dari udang atau  ikan-ikan kecil yang dicampur dengan garam, kemudian diragikan. Terasi digunakan sebagai bahan penyedap masakan seperti pada masakan sayuran, sambal, rujak, dan sebagainya. Sebagai bahan makanan setengah basah yang berkadar garam tinggi, terasi dapat disimpan berbulan-bulan.
1. Bahan :
§  Ikan laut (ikan tawar) 10 kg
§  Garam dapur 3 kg
2.  Alat :
§  Bak (tong kayu) tempat penggaraman
§  Pisau
§  Tampah (nyiru)
§  Peti Kayu (keranjang bambu)
3. Cara Pembuatan :
§  Cuci ikan kecil-kecil atau rebon sampai bersih dari kotoran;
§  Masukkan ke dalam baskom penggaraman, tambahkan garam dan aduk sampai   rata;
§  Tutup bak dan biarkan campuran ikan garam selama 1~7 hari (peragian I);
§  Selesai peragian I, jemur rebon atau ikan di terik matahari sampai setengah
§  kering kemudian tumbuk sampai hancur (lumat), lalu jemur lagi. Lakukan hal
§  tersebut selama 2~4 hari (peragian II). Kemudian cetak dan bungkus.
§  Apabila perlu jemur lagi baru dibungkus.

  
1.   Diagram Alir Pembuatan Terasi :







PENGAWETAN IKAN

TEKNIK PENGAWETAN IKAN UNTUK DIKONSUMSIDENGAN METODE FERMENTASI ENSILING


 TEKNIK PENGAWETAN IKAN UNTUK DIKONSUMSI

I. LATAR BELAKANG

Ikan merupakan sumber protein hewani dan juga memiliki kandungan gizi yang tinggi
di antaranya mengandung mineral, vitamin, dan lemak tak jenuh. Protein dibutuhkan tubuh
untuk pertumbuhan dan pengganti sel-sel tubuh kita yang telah rusak. Selain air, protein
merupakan bagian utama dari susunan (komposisi) tubuh kita.
Tabel Komposisi Ikan Segar per 100 gram Bahan
Protein dalam ikan berguna untuk :
1. Mempercepat pertumbuhan badan (baik tinggi maupun berat).
2. Meningkatkan daya tahan tubuh.
3. Mencerdaskan otak/mempertajam pikiran.
4. Meningkatkan generasi/keturunan yang baik.
Ikan memiliki kadar protein yang sangat tinggi yaitu sekitar 20 %. Di samping itu
protein yang terkandung dalam ikan mempunyai mutu yang baik, sebab sedikit mengandung
kolesterol dan sedikit lemak.
Di samping kelebihan tersebut, ikan memiliki kelemahan yakni mudah membusuk.
Ikan relatif lebih cepat mengalami pembusukan daripada daging unggas dan mamalia karena
pada saat ditangkap ikan selalu berontak sehingga banyak kehilangan glikogen dan glukosa.
Glikogen dan glukosa pada hewan yang mati dapat mengalami glikolisis menjadi asam
piruvat yang selanjutnya diubah menjadi asam laktat. Apabila ikan terlalu banyak berontak
pada saat ditangkap maka akan banyak kehilangan glikogen dan glukosa sehingga kandungan

asam laktat ikan menjadi rendah. Dengan demikian nilai pH-nya relatif mendekati normal.
Nilai pH yang mendekati normal ini sangat cocok untuk pertumbuhan bakteri, sehingga ikan
segar harus segera diolah dengan baik agar layak untuk dikonsumsi.
Pengolahan ikan ini dilakukan untuk memperbaiki cita rasa dan meningkatkan daya
tahan ikan mentah serta memaksimumkan manfaat hasil tangkapan maupun hasil budidaya.
Pengolahan ikan meliputi cara memilih ikan segar, perlakuan pada ikan, dan cara
menghambat kebusukan.

II. PEMILIHAN IKAN

Pemilihan ikan yang segar dapat mengurangi waktu pembusukan. Dalam keadaan
seperti ikan segar ini, biarpun ada kuman-kuman pembusuk tetapi belum cukup kuat untuk
menghancurkan daging ikan. Dengan pengaruh panas maka kuman-kuman ini jumlahnya
bertambah banyak, sehingga daging mulai lunak dan proses pembusukan terjadi. Berikut
meruapakan tanda-tanda ikan yang segar :
a. Ikan bercahaya seperti ikan hidup (warna keseluruhan termasuk kulit cemerlang).
b. Jika ikan tersebut bersisik, sisik tersebut masih tertanam kuat pada dagingnya (kuat) dan
mengkilat.
c. Insang berwarna merah cerah.
d. Badan kaku atau liat.
e. Baunya masih seperti ikan hidup / segar.
f. Mata ikan jernih dan terang.
g. Daging kenyal
h. Mata jernih menonjol
i. Sirip kuat
j. Dinding perut kuat
Tanda-tanda ikan yang sudah busuk:

a. mata suram dan tenggelam;
b. sisik suram dan mudah lepas;
c. warna kulit suram dengan lendir tebal;
d. insang berwarna kelabu dengan lendir tebal;
e. dinding perut lembek;
f. warna keseluruhan suram dan berbau busuk.

III. CARA MEMPERTAHANKAN KESEGARAN IKAN

Cara memperlakukan ikan yang sudah ditangkap, sangat mempengaruhi kecepatan
pembusukan ikan tersebut. Ikan yang dari semula diperlakukan dengan tidak baik akan
menghasilkan ikan bermutu tidak baik pula. Perlakuan terhadap ikan yang baik adalah
sebagai berikut :
a. Usahakan ikan tidak mati secara perlahan-lahan, tetapi mati dengan cepat.
b. Setelah ikan mati, dinginkan dengan es untuk mengurangi pembusukan.
c. Ikan tidak dilempar-lemparkan dan tidak terkena benda tajam.
d. Buang bagian tubuh ikan yang mudah busuk, misalnya isi perut dan insang.
e. Cuci dengan air bersih.

IV. CARA MENGHAMBAT PEMBUSUKAN

Setelah ikan bersih, dilakukan metode untuk menghambat pembusukan. Pada
prinsipnya, cara untuk menghambat pembusukan dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu
pendinginan dan pengawetan.

A. PENDINGINAN

Pendinginan dapat dilakukan dengan diberi es dan juga dimasukkan ke dalam kulkas.
Sebenarnya pemakaian es sangat baik, karena hal hal berikut :

a. Es sanggup mendinginkan ikan dengan cepat, panas dari ikan ditariknya sehingga ikan
cepat dingin dan pembusukan terhambat.
b. Es berasal dari air sehingga tidak akan menimbulkan kesulitan apa-apa dan tidak
membahayakan kesehatan orang.
c. Es melindungi ikan dari kekeringan dan ikan tidak cukup didinginkan saja tetapi harus
dijaga jangan sampai kering, kalau kering akan timbul perubahan pada otot serta warna
dagingnya.
d. Es mudah dibuat dan diperoleh.
Langkah-langkah pendinginan ikan dengan es adalah dengan mempersiapkan peti /
cool box tempat ikan, lalu tempat tersebut dibersihkan dan diberi lapiSan es yang cukup.
Ikan-ikan yang telah dibersihkan disusun berjajar di dalam peti tersebut, lalu ditutupi dengan
pecahan es. Perbandingan yang baik antara ikan dan es adalah 2 : 1 atau 1 : 1.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pendinginan dengan menggunakan es adalah:
a. Lapisan es dan ikan tidak boleh lebih tinggi dari 50 cm, sebab kalau lebih tinggi akan
menyebabkan ikan disebelah bawah akan tergencet dan rusak.
b. Jika tinggi peti es lebih dari 50 cm, sebaiknya diberi sekat hidup untuk menahan beban
ikan di sebelah atas.
c. Jenis ikan yang berkulit dan berduri kasar jangan dicampur dengan ikan yang berkulit
halus.
d. Makin cepat ikan diberi es makin baik, sebab pembusukan tidak sempat berlangsung.

B. PENGAWETAN

Naiknya pendapatan masyarakat menuntut ikan yang lebih baik dan lebih segar. Hal
ini akan mendorong perbaikan mutu ikan yang dihasilkan sejak ditangkap sampai ke tangan
konsumen sehingga dibutuhkan waktu ketahanan ikan segar dalam waktu yang cukup lama.
Pada umumnya pendinginan hanya dapat menghambat pembusukan dalam waktu yang lebih
pendek bila dibandingkan dengan pengawetan.

Pengawetan ikan dapat dilakukan dengan cara pemindangan. Pada intinya
pemindangan merupakan perebusan ikan dalam air garam. Faktor-faktor yang mempengaruhi
mutu ikan pindang adalah kesegaran ikan, garam, & kondisi lingkungan (kebersihan alat dan
bahan, proses pembuatan pindang, dan penyimpanan hasil pemindangan). Banyak cara
pemindangan yang telah dilakukan, di antaranya :
1. Perebusan dengan larutan garam jenuh selama 10 menit
2. Penambahan bumbu (bawang & kunyit)
3. Perebusan dalam air garam 10 %
Tetapi dari hasil pemindangan seperti di atas, ikan akan mudah busuk karena kadar air yang
tinggi.
Pengawetan dapat dilakukan dengan perendaman dalam es dan air laut, asam cuka
dan air laut, garam dan air laut, asam cuka dan kalium sorbat, penambahan zat pengawet
(asam sorbat, kalium, natrium sorbat, antibiotik klortetrasiklin (CTC), dan ortotetrasiklin
(OTC)), tetapi penambahan zat pengawet tersebut mahal dan masih terdapat sifat toksik.
Fermentasi Ensiling
Pengawetan pun dapat dilakukan dengan fermentasi, yaitu dengan melibatkan peran
mikroorganisme, umumnya dengan menggunakan bakteri asam laktat karena bakteri asam
laktat mampu menghasilkan asam organik berupa asam laktat dan asam asetat, senyawa
asetaldehid (meningkatkan cita rasa) serta semacam senyawa antimikroba untuk menghambat
pertumbuhan bakteri perusak. Faktor-faktor yang mempengaruhi fermentasi, antara lain :
asam, penggunaan kultur murni, suhu, oksigen, dan bakteri asam laktat.
Ensiling merupakan suatu proses fermentasi non-alkoholik dengan menggunakan
kemampuan bakteri asam laktat, yang dapat berlangsung dalam kondisi anaerobik. Metodemetode
fermentasi ensiling :
1. Sistem Rydin (1973) : digunakan starter asinan sawi (Brassica chinansis).
Diagram alir metode fermentasi ensiling menurut Rydin :

Ikan
-dicuci hingga bersih
-dipotong-potong
Ikan, starter, gula putih, tepung
- dimasukkan ke dalam kantong plastik
- ditutup rapat
- disimpan dalam stoples tertutup
Campuran
(nilai pH dan suhu diukur setiap hari).
2. Sistem Stanto (74) : digunakan starter asinan sawi (Brassica chinansis).
Diagram alir metode fermentasi ensiling menurut Stanto :
Ikan
Ikan, tepung, starter
Campuran
-diaduk
- dicuci hinga bersih
- dipotong-potong sepanjang 2-3 cm
- diaduk
- dimasukkan ke dalam kantung plastik
- ditutup rapat
-disimpan dalam stoples
(nilai pH & suhu dihitung setiap hari selama 2-4 minggu).

Fermentasi ensiling yang telah diakukan tersebut tidak cukup tahan lama. Hal tersebut
dapat disebabkan oleh keadaan ikan yang kurang steril. Pada tahun 2001 telah ditemukan
suatu cara fermentasi ensiling pindang yang sangat mempertimbangkan berbagai aspek.
Berikut merupakan diagram alir dari proses fermentasi ensiling tersebut :
-Dimasukkan ke dalam 100 mL larutan gula 1,5 % di dalam botol selai
ukuran 250 mL
-dimasukkan sepotong pindang ke dalam larutan yang telah berisi inokulum
tersebut
-diinkubasi pada suhu kamar
-(dilakukan pengamatan terhadap kadar asam laktat, pH, jumlah mikroba,
dan uji organoleptik tiap 2 hari sekali selama 6 hari)
Potongan pindang terfermentasi
Inokulum terpilih
Pindang ikan.
- ditaburi garam dapur 10 gr untuk 100 gr ikan
- dikeringkan dalam oven pada suhu 110o C selama 5 menit.
Pengukuran Kadar Asam Laktat
Ikan
-Ditmbang hingga 10 gr
-dihaluskan dengan mortar
-disuspensikan dengan akuades
-dimasukkan ke dalam labu erlenmeyer
-ditambahkan akuades hingga 100 mL
-didiamkan selama 30 menit

-diaduk
-disaring dengan kertas Wattman
Hasil saringan
Larutan homogen
-dipipet sebanyak 10 mL
-dimasukkan ke dalam botol film
-ditambahkan fenolftalin 2-3 tetes
-dititrasi dengan NaOH 0,1 N
Larutan berwarna merah muda
Kadar asam laktat dihitung dengan rumus : mL titrasi NaO x N aOH x 9
mg sampel
Pengukuran pH
Ikan
-ditimbang hingga 15 gr
-dihaluskan dengan mortar
-ditambahkan akuades 30 mL
-diaduk
-diukur dengan pH meter
Nilai pH ikan

Pengukuran Jumlah Total Miroorganisme
Ikan
- ditimbang hingga 1 gr
-diencerkan secara desimal ( 10-1 sampai 10-14 dengan menggunakan
tabung reaksi masing-masing diisi 9 mL larutan NaCl 0,85 %)
-diambil 1 mL larutan dari pengenceran
-dipipet ke dlm cawan petri steril (duplo)
-dituangkan medium plate count agar yang telah didinginkan sampai kirakira
44o C sebanyak 10 mL ke dalam cawan petri
-dihomogenkan
-diinkubasi pada suhu kamar selama 24 jam
Cawan yang digunakan adalah cawan yg mengandung 30 – 300 koloni
Uji Organoleptik
Uji organoleptik mwrupakan uji yang dilakukan untuk mengetahui sejauh mana
penerimaan konsumen terhadap suatu produk. Uji ini dilakukan terhadap 15 penelis dengan
syarat : sehat; bebas penyakit THT; tidak buta warna; tidak sakit jiwa; kebiasaan merokok,
minuman keras, permen karet 1 jam sebelum pengujian harus dihentikan; dan tidak alergi.
Diukur tingkat kesukaan terhadap ikan pindang yang meliputi rasa dan aroma serta
penampakan lendir dan jamur.
Sumber :
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan
dan Teknologi. 2000. Ikan Asin Cara Kombinasi Penggaraman dan Peragian (Ikan
Peda). Jakarta (http://www.ristek.go.id)
Purwati. 1980. Kemungkinan Penggunaan Asinan Tradisional (Asinan Sayuran) sebagai
Sumber “Starter” di dalam Proses Pengawetan Ikan secara Ensiling. Thesis Sarjana
Biologi ITB

Syam, N. H. W. 2001. Kajian Potensi Bakteri Asam Laktat (Lactobacillus plantarum (O.)
dan Lactobacillus fermentum Beijerinck) dalam meningkatkan Mutu Pengawetan Ikan
Tuna (Euthynnus affinis Cantos). Tesis Magister Biologi ITB
http://bisnisukm.com/teknologi-pengawetan-ikan.html
http://www.bukabuku.com/browse/bookdetail/17095/pendinginan-pembekuan-dan-
pengawetan-ikan.html
http://www.nunihon.org/twiki/bin/view/TWiki/IptekTerapan


Monday, May 22, 2017

PEMBUATAN ALAT TANGKAP CUMI

PEMBUATAN ALAT TANGKAP CUMI

Image result for alat tangkap cumi
Sumber : http://umpanikan123.blogspot.co.id/2016/03/cara-mancing-cumi-yang-jitu-dan-populer.html

Latar Belakang

Cumi – cumi adalah merupakan salah satu komoditi hasil tangkapan yang memiliki nilai ekonomis tinggi.  Namun disisi lain,  penangkapan cumi dalam jumlah besar yang mengarah pada perikanan industri di Indonesia masih jarang dilakukan.  Sedangkan ditinjau dari potensi sumber daya alam, perairan di Indonesia masih menjanjikan untuk usaha penangkapan cumi.  Terutama pada perairan Selat Alas , Muna, Buton dan Perairan Indonesia Bagian Timur lainnya.
Pada daerah tersebut rata rata masih menggunakan alat tangkap bagan tetap atau perahu. Dalam pengembangannya bagan perahu banyak mengalami kendala terutama kesulitan untuk menjangkau daerah yang lebih jauh. Disisi lain dilihat dari potensi, hakekatnya cumi juga dapat ditangkap pada perairan yang lebih dalam maupun perairan yang dangkal. 
Pada laut  dalam ( 100 – 200 meter )   cumi dapat ditangkap dengan scuid jigger yang menggunakan armada kapal yang mencapai bobot 200 GT.  Dengan sendirinya armada tersebut didukung pula dengan sarana dan teknologi canggih. Diantaranya adalah alat bantu penangkapan yang menggunakan lampu mencapai puluhan ribu watt,  mesin penarik tali utama ( Automatic jigging machine, yang menggunakan system electric atau hydraulic ), peralatan navigasi ( GPS / Global Positioning System dan Fish Finder  ) maupun jumlah ABK dan sarana lainnya.  Dengan sendirinya armada tersebut sangat sulit untuk dapat dimiliki  oleh nelayan kecil yang hampir merata berada diseluruh wilayah NKRI.
Pada perairan pantai yang mempunyai topografi berbentuk landai dengan dasar lumpur atau lumpur campur pasir, cumi dapat  ditangkap dengan  alat lampara  dasar, dogol, trawl, cantrang, jaring pantai.  Walaupun dapat dikatakan merupakan hasil samping ( By Catch ), namun pada alat tangkap dan kapal yang digunakan  5 – 15 GT  masih dapat dijangkau oleh nelayan kecil. Terutama di Pantura Jawa dan Madura serta di Kalimantan Selatan ( Pulau Laut ) .  Adapun untuk cumi yang berada dihabitat sekitar terumbu karang dapat ditangkap oleh nelayan tradisional, yang menggunakan perahu relatip kecil, panjang 5 – 9 meter dan lebar 90 – 150 Cm. Mengingat perairan Indonesia banyak memiliki terumbu karang, maupun gencarnya upaya pelestarian terumbu karang baik oleh pemerintah maupun masyarakat pecinta lingkungan, hal ini merupakan dampak positif bagi penangkapan cumi.
Dengan berkembangnya terumbu karang, harapannya nelayan tradisional dapat berkembang, karena komoditi cumi mempunyai nilai jual yang tinggi.  Sehingga diharapkan pula dapat meningkatkan  taraf hidup nelayan beserta keluarganya.  Disamping itu nelayan tradisional akan ikut pula memiliki, menjaga  dan melestarikan  terumbu karang  dari upaya upaya penangkapan yang tidak bertanggung jawab.  Karena penangkapan tersebut menggunakan bahan  peledak atau potassium yang  dapat mematikan atau merusak  terumbu karang sebagai habitat cumi. 
Untuk itu alat tangkap  cumi yang tidak merusak terumbu karang dan tidak membahayakan bagi nelayan adalah Squid Jigger yang berbentuk miniature  udang dari bahan kayu ( udang – udangan ) yang bagian ekornya dipasang pancing ( Jig Barbs ).    Bentuk dari jig barbs  tersebut menyerupai payung terbalik yang ujungnya tanpa kait  balik.  Pengoperasian pancing cumi tersebut  pada lapisan bawah permukaan air yang tidak sampai pada dasar perairan, sehingga alat ini dapat dikatakan sangat ramah lingkungan  karena terumbu karang tetap terjaga. Berdasarkan uraian  tersebut, tidak berlebihan perlunya disusun modul tentang “ Pembuatan Pancing  Cumi Bentuk Udang Udangan”


 KONSTRUKSI


A.   Bentuk Umum .
Pengembangan bentuk Squid Jig dewasa ini umumnya  dapat dikelompokan menjadi dua yaitu dengan sistim rangkai dan sistim tunggal.

1.   Sistim Rangkai.    
Sistim ini, untuk bodi / badan  squid jig berbentuk silinder dengan kedua ujungnya  mengecil. Pada lobang Jig barbs dipasang as dari logam yang menembus bagian badan / bodi sampai pada bagian atas dan ujungnya langsung dibetuk lingkaran / cincin. Demikian pula untuk bagian bawah jig barbs dibentuk melingkar.  Maksud dibentuk lingkaran tersebut adalah untuk memudahkan pada saat akan dirangkai antara squid jig yang satu dengan  lainnya.
Squid Jig tipe ini adalah yang digunakan untuk penangkapan cumi di laut dalam dengan menggunakan kapal yang dilengkapi alat Bantu penangkapan yang canggih. 







2.  Sistim Tunggal.
Sistim ini sudah lama digunakan oleh nelayan tradisional maupun para  pemancing yang bersifat hobi.  Pada awalnya sistim ini dibuat menyerupai bentuk udang, sehingga populer dengan sebutan udang – udangan.  Lama kelamaan dimodifikasi pula dalam  bentuk ikan. Dikatakan sistim tunggal, karena didesain hanya digunakan 1 ( satu ) buah dimana pada bagian bawah jig barbs tidak dipasang ring / cincin, sehingga tidak bisa dirangkai dengan yang lain. Bentuk ini banyak diminati oleh nelayan tradisional karena dapat digunakan untuk memancing diatas terumbu karang.
Secara konstruksi, scuid jig sistim rangkai lebih kuat dibandingkan dengan sistim tunggal baik yang berbentuk udang udangan maupun bentuk ikan

a.    Scuid Jig Bentuk Udang





                

            b.  Scuid Jig Bentuk Ikan







B.   Klasifikasi.
Jenis dan macam alat tangkap ikan yang beragam bentuk serta karakteristiknya yang telah dioperasikan dilaut sudah dikenal diseluruh dunia.   Oleh karena itu jika tidak ada yang berperan memperkenalkannya, maka alat tangkap tersebut tidak akan diketahui secara luas, bahkan oleh masyarakat yang bergerak dibidang perikanan tangkap sekalipun.
Pengenalan alat tangkap diperlukan bagi pihak – pihak  yang ingin mengetahui atau yang tertarik untuk melakukan kegiatan usaha penangkapan ikan. Pengenalan tersebut akan lebih sempurna kalau dilengkapi dengan perangkat peraturan perundang undangannya yang berlaku.  Hal ini diperlukan agar dapat diketahui alat tangkap yang dilarang dan diperbolehkan diopersikan di Perairan Indonesia dan Zona Ekonomi Ekslusif Indonesia  ( ZEEI )
Dalam melihat dan mengamati suatu alat tangkap ikan , ada beberapa hal yang penting  untuk diketahui diantaranya adalah rancang bangun dan konstruksinya.  Pada rancang bangun akan diketahui dimensi / ukurannya, bahan dan gambar desainnya. Sedangkan dari konstruksinya akan tampak bentuk sewaktu dioperasikan dilaut.  Disamping itu tata letak atau susunan dari masing masing bahan atau material yang digunakan pada alat tangkap ikan yang diamati.  Hal ini diperlukan karena antar alat tangkap ikan banyak kemiripannya, maka hal ini diperlukan adanya upaya klasifikasi yang dapat mengolong golongkan baik jenis maupun macamnya.  
 Klasifikasi atau menggolong golongkan alat tangkap ikan dimaksudkan adalah untuk menghindari adanya suatu kesalahan dalam pengambilan suatu kebijakan.
Dalam hal ini apakah alat tangkap yang digunakan tersebut ramah lingkungan atau merusak. Juga diperlukan pula guna  menghindari terjadinya konflik social antar nelayan.
Sesuai dengan  ISSCFG ( International Standard Statistical Classification on Fishing Gear ) dan Statistik Perikanan Indonesia Tahun 1998 Scuid Jigs  digolongkan kedalam alat tangkap pancing ( Hook and Lines ). Penggolongannya meliputi  : a). Pancing ulur dan pancing berjoran biasa.  b). Pancing ulur dan pancing berjoran dimekanisasi.  c). Rawai menetap.  d). Rawai hanyut. e). Rawai lainnya.  f ) Pancing tonda  dan Pancing lainnya. 
Berdasarkan klasifikasi tersebut, untuk squid jigs masuk dalam kelompok  pancing ulur.  Hal ini karena sistim pengoperasiannya pancing cumi dilengkapi dengan umpan buatan dengan menggunakan satu mata pancing atau beberapa mata pancing yang dirangkai. Setelah alat turun diperairan, tali disentak sentakan naik turun untuk menarik perhatian cumi – cumi. 
Adapun untuk pancing cumi bentuk udang, setelah pancing dilempar keatas perairan yang didasarnya terdapat karang / terumbu karang, kemudian tali ( monofilament )  langsung ditarik dengan pelan dan digulung pada kelosnya. 
   
C.   Bentuk Pada Waktu di Operasikan.
Pada umumnya bentuk  alat tangkap tali dan pancing secara desain lebih sederhana  dan mudah  pembuatannya apabila dibandingkan dengan alat tangkap dari bahan tali dan jaring.  Bentuk dari suatu alat tangkap waktu dioperasikan merupakan bentuk yang ideal ( diinginkan ) sesuai dengan tujuannya.  Walaupun lebih sederhana dan bentuk udang udangan dikatagorikan sebagai bentuk konvensional namun apabila salah dalam mendesain berakibat tidak seperti yang diharapkan.
Adapun pancing cumi bentuk udang sewaktu dioperasikan diharapkan setelah dilempar dan berada dibawah permukaan  dimana udang udangan mulai tenggelam maka dalam posisi seperti atau mendekati  udang yang sesungguhnya.  Setelah tali mulai ditarik dengan cara kelos digulung pelan, udang udangan bergerak selayaknya udang bergerak / berenang sebagaimana mestinya. Untuk itu badan / bodi udang udangan harus dibuat sedemikian rupa sehingga perbandingan antara panjang dan diameter sebanding. Disamping itu  besarnya jig barbs / spyder squid hook ( pancing ), bentuk pemberat dan diameter tali ( monofilament ) harus menyesuaikan pula, sehingga udang udangan dapat bergerak seperti udang hidup. Karena udang ukuran panjangnya  juga bervariasi, untuk itu udang udanganpun dibentuk panjangnya bervariasi pula. Gambaran tersebut adalah merupakan factor kesulitan pada proses pembuatannya.
Secara perhitungan hal tersebut diatas belum dilakukan untuk mengkaji guna mendapatkan bentuk yang ideal. Sehingga para desainer ( nelayan ) hanya membuat berdasarkan naluri dari pengalamannya. Untuk itu  para pemancing ( nelayan / hobi ) umumnya membawa bekal udang udangan dari berbagai ukuran mulai ukuran kecil hingga ukuran yang panjang. Hal ini menyesuaikan saat melakukan pemancingan, menggunakan yang kecil atau yang besar, tergantung dari cumi yang tertangkap atau musim cumi.
Perhitungan demikian secara umum yang berlaku pada penangkapan ikan menggunakan pancing. Apabila akan memancing tuna dengan sendirinya mata pancing dan umpan juga harus menyesuaikan besarnya sasaran tangkap.  Demikian pula apabila akan menggunakan hand line ( pancing ulur dasar ) atau rawai dasar, ukuran mata pancing juga harus menyesuaikan ukuran secara umum jenis jenis ikan dasar sebagai sasaran tangkapnya.       
Adapun untuk pancing cumi bentuk pengembangan yang dibuat oleh pabrik sudah banyak mengalami modifikasi, yaitu bahan menggunakan plastic tranparant yang diberi berbagai warna fluorescent ( Scoot Light ).  Hal ini mengingat negara yang maju dibidang penangkapan ikan seperti Jepang, Cina , Korea, Taiwan mampu secara optimal memanfaatkan potensi perikanan laut dalam. Sehingga pancing cumi juga diupayakan untuk mampu pula menangkap cumi dilaut dalam, dan terbukti negara tersebut berhasil dalam usaha penangkapan cumi. Untuk itu perikanan cumi mampu menjadi perikanan industri yang menggunakan sarana kapal dan alat tangkapnya dengan teknologi canggih.  Untuk Indonesia,  perikanan industri yang menangkap  cumi laut dalam belum popular seperti halnya Tuna Long Line, Purse Seine, Trawl.  Namun demikian pertumbuhan armada cumi laut dalam semakin membaik, yang diharapkan mampu pula menjadi perikanan industri yang mampu disejajarkan dengan Negara maju lainnya.  Sehingga hal ini dapat  menyerap tenaga kerja generasi muda sebagai pelaut perikanan tangkap yang lebih banyak.
Sedangkan pemanfaatan potensi cumi yang mempunyai habitat di terumbu karang, hal inipun mampu dikembangkan guna meningkatkan pendapatan nelayan tradisional. Mengingat kelompok masyarakat tersebut sangat banyak bertempat tinggal dipesisir dengan sarana yang serba terbatas. Untuk itu pancing
cumi bentuk udang udangan  masih berpeluang guna dikembangkan.


      Kapal Penangkap Cumi di Pelabuhan. 

   
                     
Sedang melakukan penangkapan di laut dalam 





 PEMBUATAN PANCING CUMI BENTUK UDANG UDANGAN



        Pada pembuatan squid jig bentuk  udang udangan hakekatnya belum  ada desain baku atau suatu keharusan, baik panjang maupun diameternya badan / bodi.  Hal ini mengingat bahwa squid jig bentuk udang udangan masih merupakan home industri, sehingga belum ada keseragaman bentuk maupun ukuran. Tidak menutup kemungkinan apabila alat tangkap ini berkembang dan diproduksi oleh pabrik, dapat didesain bisa menangkap dilaut dalam maupun dilaut dangkal pada daerah  disekitar  terumbu karang. Pada pembahasan selanjutnya akan diuraikan tentang  alat dan bahan, serta proses pembuatannya.

A.   Peralatan.
Pada pembuatan pancing cumi bentuk udang udangan, walaupun merupakan home industri tetapi jenis peralatan yang digunakan seolah – olah tidak umum  untuk membuat suatu alat tangkap.   Adapun jenis peralatannya adalah :
1.    Gunting
2.    Pisau cutter.                
3.    Parang.
4.    Tang.
5.    Gergaji.
6.    Tanggem.
7.    Bor tangan.
8.    Mata Bor 1 mm dan 2 mm
9.    Penggaris mika.                      
    
B.   Bahan.
Jenis – jenis bahan yang digunakan meliputi :

Kayu
 Amplas

 Cat

Jig Barbs 

 Kawat Stainless Steel

 Kelos

 Kili - kili

 Lem 

 Monofilament 

Monte









C.  Pembuatan.
       1.  Bagian Badan / Bodi.
a. Potong kayu bulat sepanjang 10 cm,  dan ukur menjadi 3 ( tiga ) bagian : ekor  4 cm, badan 2,5 cm dan kepala 3,5 cm
b.   Bentuk kayu tersebut ( sesuai gambar )  menggunakan pisau cutter sedikit demi sedikit  hingga membentuk  badan udang.
                               




 Bentuk Badan/Body


c. Setelah badan udang sudah mulai terbentuk secara kasar, lobangi bagian ekor dengan cara  bungkus dengan kain pel ( kain bekas ) kemudian jepit menggunakan tanggem.
d.  Waktu menjepit usahakan jangan terlalu keras untuk menghindari badan rusak / pecah. Untuk bagian ekor di bor dengan ukuran mata bor 2 mm sepanjang ukuran as pada jig barbs.  Setelah selesai, lepas tanggem dan bodi dibalik untuk pengeboran bagian kepala.
e.  Bor bagian kepala sedalam 2 cm dari ujung dengan ukuran mata bor 1 mm untuk tempat kawat stainless. Sewaktu menggunakan mata bor 1 mm  posisi harus benar benar lurus karena mata bor ini mudah patah.
f.  Buat bagian kepala untuk tempat mata, menggunakan mata bor 2 mm, pengeboran cukup seperlunya saja yang terpenting biji monte bisa  masuk sebagian.  
g.  Ukur sepanjang 2,5 – 3 cm dari ujung kepala, tepat pada tengah – tengah ( horizontal ) bor hingga tembus dengan mata bor 1 mm. Lobang ini untuk tempat sirip dada ( nelayan mengistilahkan : sungut ) 
h.  Dibawah sirip tersebut tepat dibagian tengah tengah ( vertical ) dibuat lobang berbentuk 4 persegi panjang untuk tempat pemberat. Ukuran lobang panjang 2,5 cm dalam 0,5 cm dan tebal 3 mm.
      Besar kecilnya lobang ini menyesuaikan dengan ukuran pemberat yang akan digunakan.
i.      Semua pembuatan lobang selesai, ratakan bekas sayatan menggunakan cutter kemudian di ampelas hingga seluruh permukaan badan udang menjadi halus, tidak ada bekas sayatan. Pada waktu mengamplas ( finishing bodi ) sambil diperhatikan bentuk bodi supaya tetap ada unsur keseimbangan dan unsure seni.
  
      2.  Pemasangan Jig Barbs.
 a. As jig barbs dan lobang pada bagian ekor diberi lem secukupnya, kemudian masukan as sambil diputar searah jarum jam, hingga seluruh as masuk pada lobang sampai ujung ekor rata dengan bagian dalam dari jig barbs.
b.  Jemur dipanas matahari atau diangin – anginkan ± 10 menit agar lem benar benar kering dan melekat dengan baik.
      3.  Pemasangan Kili – Kili.
a.  Sambil menunggu penjemuran bodi hingga lem kering, ukur dan potong kawat stainless steel sepanjang 6 cm.
b.  Masukan ujungnya pada lobang kili – kili dan tekuk kawat menjadi dua bagian sama panjang.
c.   Lilit kedua kawat menjadi satu, pada ujung yang di lobang kili – kili dibuat lingkaran dengan diameter maksimal sama dengan lobang pada kili kili. Lilit hingga habis sampai keujung.
d.  Setelah pembuatan tempat kili – kili selesai, ambil bodi yang sudah dijemur, pada lobang dikepala dan kawat stainless tempat kili – kili sepanjang 2 cm,  beri lem secukupnya
e.   Masukan kawat stainless steel pada lobang sedalam 2 cm kemudian bodi dijemur kembali selama ± 10 menit hingga lem benar benar kering dengan baik.   

      4.  Pemasangan Pemberat.
           a.  Ukur dan potong timah lembaran panjang 2,5 cm dan lebar 1,5 cm.
b. Lobang pemberat diberi lem secukupnya kemudian pada bagian timah sepanjang 0,5 cm x 2,5 cm diberi lem secukupnya pula.   
c.  Masukan timah pada lobang kemudian langsung dijemur kembali sampai lem benar benar mongering.

Setelah lem sudah mongering dengan baik , bersihkan sisa lem yang menempel pada bodi dengan cutter kemudian lakukan pengampelasan kembali hingga seluruh bodi benar benar bersih.

     5.   Pengecatan.
a.  Bungkus jig barbs dan pemberat dengan kertas bekas, kemudian ikat kili – kili dengan seutas tali dan digantung.
b.  Cat hingga merata seluruh bagian bodi menggunakan cat dasar warna putih metallic, biarkan sampai beberapa menit agar lapisan dasar benar – benar kering.  Pengecatan sebaiknya menggunakan cara semprot, karena akan menghasilkan  permukaan yang merata.
c.  Setelah cat dasar kering, ampelas kembali menggunakan ampelas air yang halus  ( No. 1000 ) seperlunya , namun pengampelasannya tidak perlu menggunakan air. Kemudian bersihkan sisa – sisa ampelas dengan lap kering dan bersih.  
d. Gantung kembali bodi dan semprot dengan cat warna metallic sesuai selera, yang terpenting warna harus menyolok, biarkan sampai mongering.
e. Pengecatan yang kedua bisa menggunakan warna lainnya untuk kombinasi, atau cukup satu warna.  Namun apabila pengecatan pertama kurang merata, hal ini bisa dilakukan pengecatan kembali.  
f.   Sewaktu pengecatan sebaiknya jangan terlalu tebal, hal ini dapat berakibat cat menumpuk pada suatu tempat dan akan menetes / mengalir pada bagian bawah, sehingga merusak penampilan.
     6.   Pemasangan accessories.
Setelah pengecatan seluruh bodi sudah selesai dan cat sudah benar benar mongering dan menghasilkan warna sesuai yang diharapkan, maka  dilanjutkan dengan pemasangan accessories.   Mengingat pemasangan sirip dan mata menggunakan lem, untuk itu waktu memasang agar berhati – hati.  Hal ini dikarenakan cairan lem dapat merusak warna cat  menjadi buram.
            Pemasangan sirip / sungut.
Masukan sirip / sungut pada salah satu lobang, atur kedua sisi sama panjang, kemudian pada salah satu  lobang beri lem secukupnya menggunakan lidi.  Setelah kering dilanjutkan pada sisi yang lain dengan cara yang sama seperti pada sisi sebelumnya.
            Pemasangan mata .
Pemasangan mata prinsipnya sama dengan pemasangan sirip yaitu bergantian. Pemberian lem cukup pada bagian monte kemudian langsung ditempelkan pada lobang sambil ditekan pelan dan diangin anginkan hingga lem kering dengan baik.
   
7.    Perakitan.
Ujung monofilament diikat menggunakan simpul mati pada kelos,  gulung monofilament pada permukaan kelos secara merata.  Pada ujung monofilament dibuat mata dengan panjang ± 3 – 4 cm. Masukan ujung monofilament pada lobang kili – kili dan tarik ujungnya  kemudian squid jig masukan pada mata monofilament. Tarik monofilament hingga masuk kembali pada lobang kili – kili hingga terbentuk simpul mati.

Pasang karet dari ban dalam bekas lebar 1 cm mengelilingi kelos, kaitkan jig barbs pada karet tersebut untuk disimpan atau dibawa pada saat akan memancing.  

Sumber : Modul Penyuluhan Perikanan    

Sambal Tuna Dalam Botol

Sambal adalah olahan turunan dari bahan baku cabe yang dicampur dengan bahan lain dan ikan juga bisa de...