Monday, April 30, 2018

Ikan Beronang

IKAN BERONANG




I.    PENDAHULUAN


          Pemilihan dan jenis lingkungan hidup yang tepat untuk budidaya adalah merupakan salah satu persyaratan yang khusus diteliti. Perikanan merupakan salah satu tumpuan pemerintah dalam rangka mencukupi kebutuhan protein hewani di samping daging, telur dan susu.
          Usaha budidaya ikan Baronang sangat menarik dan perlu dikembangkan untuk menaikan taraf hidup nelayan dan mencukupi kebutuhan protein.



II.       DESKRIPSI IKAN BARONANG


2.1.   Taksonomi
          Ikan Baronang bagi masyarakat nelayan merupakan ikan yang berbisa karena duri-duri pada sirip dapat menyengat sehingga menimbulkan rasa sakit.Mereka kenal beberapa jenis sehingga namanya berbeda-beda satu dengan lainnya. Ikan ini mempunyai bentuk yang lebar dengan tanda-tanda khusus, sirp punggung (dorsal fin) terdiri dari 13 duri keras (spine) dan 10 jari lemah (rays), kecuali siganus gutatus yang mempunyai 13 sampai 17 buah. Sirip dubur (anal fin) terdiri dari 7 buah dan 9 jari lemah.

2.2.   Klasifikasi menurut GAGLER et al. (1962) adalah:
          - Kelas                   : Ostheichhyies
          - Ordo          : Perciformes
          - Sub Ordo    : Acanturoidei
          - famili         : Siganidae
          - Genus        : Siganus
          - Species       : Siganus spp





III.   PROSES PEMBENIHAN IKAN BARONANG



          Ikan Baronang (siganus spp) mempunyai musim berpijah antara bulan Januari sampai dengan September tergantung pada species dan tempetnya. Di Singapore dan Philippine Siganus caniliculatus memijah antar bulan Januari sampi dengan bulan April (LAM 1974 dan MONACOP,1937). Sedangkan di pulau, iksn ini memijah antara bulan Maret sampi dengan bulan Juli.Di teluk Banten pemijahan ini terjadi pada bulan Januari sampai februari dan Juli-Agustus. Tetapi George (1972) menemukan bahwa, sampai bulan September masih ada ikan yang memijah di tempat yang sama.
          Beberapa peneliti sependapat bahwa,saat memijah sangat di pengaruhi oleh fase bulan Di alam ikan memijah sekitar bulan baru, demikian pula pemijahan alami yang terjadi didalam teknik percobaan.

3.1.   Pemijahan Alami
Induk-induk ikan yang matang telur hasil pembesaran dalam kurungan terapung dipindahkan kedalam bak-bak pemijahan. Perbandingan induk jantan dan betina yang ideal adalah 1:1, dewngan berat 1 sampai 1,5 kg/ekor. Induk ikan biasanya memijah pada bulan gelap, antar 5-9 hari setelah bulan gelap bulan gelap dan waktu memijah sekitar petang menjelang malam

3.2.   Fekunditas
Ikan Baronang mempunyai fekunditas yang relatif tinggi jumlah telur yang di kandung tergantung pada besarmya ikan.Siganus canaliculatus yang panjang totalnya antara 11-14 cm mempunyai telur sebanyak 300.000-400.000 butir Monacop, 1937 dan LAM, 1974). Siganus vermiculatus mempunyai telur sebanyak 300.000 butir Popper, 1976).Pemijahan rangsangan yang dilakukan terhadap ikan siganus canaliculatus yang panjangnya 22-25 cm mengeluarkan telur sebanyak 210.000-460.000 butir (Tanaka dan Basyari, 1981).Telur dalam ovary ikan yang berukuran 22-27 cm, yaitu sebanyak 200.000-1.300.000 b utir (Tanaka dan Basyari 1981).

3.3.   Pemeliharaan Larva
Telur akan menetas 22-24 jam setelah pembuahan, pada suhu air 26-29oc. Larva ikan ini sangat peka terhadap perubahan perubahan fisik dan kimia air, seperti salinitas, suhu, kadar oksigen terlarut, amoniak dan kandungan kimia lainya, sehingga penanganan terhadap kualitas air sangat diutamakan agar larva yang sudah menetas menjadi sehat dan mempunyai rasio kelangsungan hidop yang tinggi. Untuk itu di perlukan persiapan-persiapan yana mantap sebelum terjadi penetasan.
Suhu air yang ideal antara 26-30oc. Suhu air akan mempengaruhi terhadap laju metabolisme dalam tubuh ikan sehingga pertumbuhan ikan pun akan terpengaruh. Bila suhu air lebih rendah maka pertumbuhan akan terhambat, bila suhu air terlalu tinggi larva akan mengalami stress dan meningkatkan mortalitas. Hindari perubahan suhu secara mendadak khususnya waktu prgantian air
pH air selalu dikontrol, paling kurang dua kali dalam sehari. Dari hasil penelitian menunjukan bahwa, nilai ph 7,6-8,0 adalah cukup baik untuk pertumbuhan larva ikan Baronang.
Oksigen terlarut setidak-tidaknya 4 ppm, dengan tingkat kejenuhan lebih kecil dari 100% dan kadar nitrat harus dibawah 0,5 ppm
Salinitas yang umum untuk pemeliharaan adalah sekitar 30-31%.Khusus untuk ikan Baronang (siganus spp). Larva yang berumur 1-20 hari berada pada salinitas 25-28%o  sedang pada umur 20-30 hari berada pada 28-30%o dan diatas umur 30 hari menyukai salinitas diatas 30 o/oo.

3.4.   Pakan Dan Cara Pemberiannya
Ikan Baronang adalah pemakan tumbuh-tumbuhan (herbivora), hal ini dengan morfologi dari gigi dan saluran pencernaannya yaitu, mulutnya kecil mempunyai gigi seri pada masing- masing rahang dan mempunyai permukaan yang luas.
Di alam ikan beronanang dewasa memakan jenis rumput laut yaitu padina sp, cladophropsis, Gelidium.Sedang Baronang juwana lebih menyukai algae.
Berbeda dengan ikan Baronang yang hidup diperairan bebas, ikan Baronang yang tertangkap dan dibudidayakan mampu memakan makanan apa saja yang di berikan. Jenis makanan yang diberikan tidak hanya tergolong tumbuhan saja tetapi juga makanan buatan seperti pellet, tepung tapioka, tepung ikan, dan daging ikan dan moluska, slada dan kangkung.
Larva ikan Baronang umumnya di beri pakan yang terdiri dari phytoplankton yang umum di berikan adalah : chlorella sp, Tetrsselmes suecia, Pheo dacthylum dan jenis zooplankton yang diberikan adalah rotifera, Nauplius, Artemia, Copepoda.
Dari beberapa macam jenis jasad pakan tersebut tidak diberikan pada waktu yang bersamaan melainkan disusun menurut jadwal yang tertentu sesuai dengan perkembangan mulutnya.
Setelah larva berumur 15-17 hari, dimana perkembangan larva mempunyai tahapan-tahapan yang disesuaikan dengan perkembangan larva, yaitu perkembangan lebar mulut dan perkembangan pencernaanya.Berbeda dengan ikan Baronang dewasa, tahapan-tahapan yang dilakukan adalah jumlah pakan yang harus disesuaikan dengan berat ikan.Sedang pada larva, ukuran dan jenis jasad pakan yang harus di sesuaikan dengan perkembangan mulutnya.
Setelah larva berumur 15-17 hari, dimana perkembangan mulut sudah semakin membesar, pada saat itu pakan ditambah dengan artemia. Tiga hari kemudian yaitu pada hari ke-20, copepoda (Tignopus sp) ditambahkaqn walaupun jasad pakan lain masih tersisa dalam tangki. Pada minggu ketiga sudah bisa diberikan daging udang, atau daging ikan yang dicincang.
HARI KE
JENIS PAKAN                   10      20      30      40
          Larva bivalva         
          Rotifera
          Naupli Artemia
          Copepoda
          Daging cicang                         
          Daging uadang/ikan
Jadwal pemberian jasad pakan
  Biasanya larva berenang setelah berumur 3-4 hari mulutnya mulai terbuka, pada saat itu mereka aktif mencari makanan.Oleh karena itu makanan alami (phyto dan zooplankton) harus tersedia sebelum larva membuka mulutnya.
  Pada umur 0-5 hari jenis makanan yang diberikan adalah larva bivalva dengan jumlah 2-5 ekor/ml. Sedangkan rotofera yang dinokulasi sebelumnya mempunyai kepadatan 5-10 ekor/ml. Pada hari ke 20-30 densitas rotifera dijaga agar tetap pada densitas 50 ekor/ml.
Naupli dan copepoda ditambahkan dengan densitas 0,5ekor/ml, pada saat larva berumur 15-30 hari.Pada hari ke 20-35 densitas naupli dan copepoda ditingkatkan menjadi 1-2 ekor/ml. Daging udang yang dicincang dapat di berikan setelah hari ke 20. Pada hari 35-60 makanan yang diberikan adalah daging udang /ikan yang dicincang seanyak 80-100% dari bobot berat larva, dan jumlah tersebut adalah jumlah total dalam satu hari (4-5 kali sehari). Pada saat ini perlu dilakukan sampling.Untuk mengetahui berat rata-rata larva dan sehubungandengan penentuan jumlah pakan.
         

IV. PENANGANAN PENYAKIT



          Pada umumnya penyakiy menyerang ikan Baronang disebabkan oleh sejenis parasit yang menyerang bagian insang. Parasit ini dikenal denagan nama monogenetic trematoda. Serangan berat parasit ini dapat menyebabkan gangguan pada system pernafasan sehingga pada akhirnya ikan yang terserang akan mati kekurangan oksigen.
          Pada species Siganus spinus yang tertangkap diGuam pernah ditemukan sejenis parasit yang dikenal dengan nama microcotyl mouwei penyakit ini juga diketahui menyerang siganus fucencesis yang tertangkap di jepang iksn beronag yang di pelihara dal;am jaring keramba apung.

4.1.   Diagnosa Gejala Penyakit
Untuk mengetahui jenis penyakit dan cara pencegahanya diperlukan diua tahapan diagnosa yaitu diagnosa klinik dan diagnaosa laboratorium. Disgnosa klinik dapat dilakukuan dilapangan dan mata telanjang, serts menggunakan alat-alat sederhana seperti pinset, guntingdan mikrokoskop. Dan untuk menentukan nama ilmiah parasit, bentuk dan jennisnya dapat dilakukan dilaboratorium
Ada beberapa hal yang perlu di perhatikan dalam melakukan diagnosa klinik yaitu :
-          Melihat ketidaknormalan dari ikan yang dibudidayakan
-          Mengumpulkan data
-          Mengambil sample dan membawanya ke laboratorium
-          Mencari data biologi sample dan mengamati organ-organ tubuh ikan
-          Periksa kembali dan lakukan diagnosda ulang.
Gejala penyakit pada ikan yang dibudidayakan dapat dilihat atau amati secara mata telanjang apa bila; ada kelainan tingkah laku yaitu salah satu atau beberapa ikan keluar dari kelompoknya dan cara berenangnya miring.

4.2.   Pencegahan Ikan Sakit
Pencegahan ikan sakit dapat di bagi atas dua langkah yaitu :
1.  Berdasarkan teknik budidaya ; tindakan-tindakan yang harus dilakukan antara lain adalah : menghentikan pemberian pakan pada ikan, mengganti pakan dengan jenis yang lain, mengelompokan ikan menjadi kelompok-kelompok yang kepadatanya/densitasanya rendah dan mungkin ikan-ikan dipanen
2.  Berdasarkan terapi kimia
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam tahap ini adalah : di tengelamkan dalam tempat budidaya, disebarkan pada permukaan , dan dicampurkan pada pakan.
Pada ikan Baronang biasanya banyak kedapatan parasit jenis monogenetic trematoda pada bagian insang.Parasit ini dapat dilakukan dengan menggunakan dipterex (organo posfgat, Dylox, Masoten, Negevau).

4.3.   Pencegahan Penyakit
Untuk mencegah agar ikan yang dibudidaya tidak terkena penyakit dapat dilakukan langkah-langkah seperti berikut : Menjaga jebersihan tempat budidaya, menjaga lingkungan/tidak tercemar oleh limbah industri dan bahan-bahan kimia lainya dan memberikan jenis pakan yang tidak terkontaminasi dengan jamur.




















DAFTAR PUSTAKA



Basyari, A. dan E Danakusumah, 1985, Sub Balai Penelitian Budidaya Pantai Bojonegoro Serang.
Basyari, A. dan Tanaka.H, 1985.pengaruh prbedaan kandungan protein dalam diet pada Budidaya Laut Lampung.
Tumurang A dan Syafei L.S, 2005. Buku Seri Kesehatan Ikan “Baronang Sehat Produksi Meningkat”. Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian, Jurusan Penyuluhan Perikanan, Bogor.

Sunday, April 1, 2018

PENYIAPAN BAK PADA PEMBENIHAN IKAN KERAPU


PENYIAPAN BAK PADA PEMBENIHAN IKAN KERAPU




Bak yang digunakan untuk pendederan ikan kerapu dapat berupa bak beton, fiberglass, bak kayu dilapisi plastik atau akuarium.  Ukuran bak dapat bermacam-macam dan biasanya dapat menentukan kepadatan dan ukuran benih yang akan ditebar. Hal yang harus diperhatikan adalah kemudahan dalam pengaturan aerasi dan pengelolaan air pada bak tersebut.  Jadi bak harus dilengkapi dengan pipa pemasukan dan pipa pengeluaran air.  Bak yang digunakan untuk pendederan kerapu ini dapat berbentuk bulat atau empat persegi panjang.
Salah satu gambaran bentuk bak yang digunakan untuk pendederan kerapu adalah bak beton berbentuk empat persegi panjang dengan ukuran 1,2 m x 4 m x 0,8 m yang dapat diisi air sekitar 2,5-3,5 m3. Pada bak ini dapat ditebar 2500-3500 ekor benih kerapu yang berukuran 1.5–3 cm  atau dengan padat tebar sekitar 1 ekor/liter. Pada salah satu sisi panjang bak pendederan ini dilengkapi dengan pipa PVC ¾ inci sebagai saluran aerasi.  Pipa saluran aerasi diberi lubang sebanyak 4 buah dengan jarak antar lubang dibuat sama. Selang aerasi yang digunakan berdiameter 1/16 inci, setiap selang aerasi dilengkapi dengan batu aerasi dan pemberat.  Jarak batu aerasi dengan dasar bak sebaiknya 5-10 cm. 
Pada bak beton tersebut dibuatkan saluran pemasukan untuk memasukkan air dari bak tandon, dapat berupa pipa PVC berukuran ¼ inci yang dilengkapi dengan keran.  Disamping itu disalah satu sisi bagian yang lain dibuatkan saluran pengeluaran yang terbuat dari bahan pipa  PVC dengan diameter 2 inci yang dilengkapi pula dengan keran.  Dasar bak dibuat miring 2-3% ke arah pembuangan.

 
 Penggunaan bak dari bahan fiberglass umumnya berukuran 2.5 m x 1.2 m x 0.7 m yang dapat diisi air sekitar 2 m3, hanya dapat ditebari benih ikan kerapu sebanyak 2000 ekor per wadah dengan kepadatan dan ukuran benih yang sama.  Bak ini juga dilengkapi dengan pipa pemasukan dan pengeluaran air serta selang aerasi.
Sebelum benih ditebar, bak pemeliharaan dan peralatan yang akan digunakan harus dibersihkan terlebih dahulu. Bak pendederan disiram dengan desinfektan berupa larutan kaporit 100-150 ppm pada seluruh sisi bagian dalam bak dan didiamkan selama 24 jam. 



Gambar 1. Bak Beton


Gambar 2. Bak Fiberglas


Gambar 3. Akuarium


Gambar 4. Bak Kayu Berlapis Plastik

Penyiraman dengan kaporit ini untuk mempermudah pekerjaan membersihkan dasar dan dinding bak dari kotoran yang menempel.  Setelah itu bak dan peralatan disikat dan dibilas dengan menggunakan air tawar sampai bau kaporit hilang, kemudian dikeringkan selama sehari. Kegiatan pembersihan ini bertujuan pula agar semua organisme yang menempel atau bakteri di dinding bak dan peralatan lainnya mati.  Setelah bersih, bak diisi air laut dan diaerasi selama 2 hari sebelum digunakan.


SUMBER:
Sumantadinata K., 2003.  Modul Penyiapan Bak dan Air Pendederan Kerapu Bebek. Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Jakarta.

REFERENSI:
Akbar, S. 2001.  Pemilihan Lokasi Budidaya Pembesaran Kerapu Macan (Ephinephelus fusacogutattus) dan Kerapu Tikus (Cromileptes altivelis) di Karamba Jaring Apung.  Balai Budidaya Laut Lampung.  Lampung
Aslianti, T., Wardoyo, J.H. Hutapea, S. Ismi, K.M. Setiawati. 1998.  Pemeliharaan Larva Kerapu Bebek (Cromileptes altivalis) dalam Wadah Berbeda Warna.  Jurnal  Penelitian  Perikanan  Pantai, Vol. IV, No. 3: 25-30.
SEAFDEC Agriculture Department. 2001.  Pembudidayaan dan Manajemen  Kesehatan Ikan Kerapu.  APEC, Singapore dan SEAFDEC, Iloilo. Philiphines.
Sunyoto, P. dan Mustahal. 2002. Pembenihan Ikan Laut Ekonomis: Kerapu, Kakap, Beronang. Penebar Swadaya, Jakarta.

Wednesday, January 31, 2018

Budidaya bawal air tawar (terapan)

Sumber : http://urbanina.com/perikanan/ciri-induk-ikan-patin-siap-dipijahkan/

Budidaya bawal air tawar (Colosoma macropomum) mulai berkembang sejak 15 tahun yang lalu. Ikan inpun tidak bisa memijah secara alami. Pemijahan bawal air tawar hanya bisa dilakukan secara buatan atau lebih dikenal dengan istilah kawin suntik (induce breeding).

Pematangan Gonad

Pematangan gonad bawal air tawar dilakukan di kolam tanah. Caranya, siapkan kolam ukuran 100 m2; keringkan selama 2 – 4 hari dan perbaiki seluruh bagian kolam; isi air setinggi 50 – 70 cm dan alirkan secara kontinyu; masukan 100 ekor induk ukuran 3 – 5 kg; beri pakan tambahan berupa pellet tenggelam sebanyak 3 persen/hari. Catatan : induk jantan betina dipelihara terpisah.

Seleksi

Seleksi induk bawal air tawar dilakukan dengan melihat tanda-tanda pada tubuh. Tanda induk betina yang matang gonad : perut gendut; gerakan lamban dan lubang kelamin kemerahan. Tanda induk jantan : gerakan lincah, lubang kelamin kemerahan, bila dipijit keluar cairan putih susu. Usahakan saat seleksi mengangkap ikan lebih dari satu, sebagai cadangan bila setelah diseleksi kurang matang.

Pemberokan

Pemberokan induk bawal air tawar dilakukan di bak selama semalam. Caranya, siapkan bak tembok ukuran panjang 4 m, lebar 3 dan tinggi 1 m; keringkan selama 2 hari; isi dengan air bersih setinggi 40 – 50; masukan 5 – 8 ekor induk; cm dan biarkan mengalir selama pemberokan. Catatan : Pemberokan bertujuan untuk membuang sisa pakan dalam tubuh dan mengurang kandungan lemak. Karena itu, selama pemberokan tidak diberi pakan tambahan.

Penyuntikan dengan ovaprim

Penyuntikan adalah kegiatan memasukan hormon perangsang ke tubuh induk betina. Hormon perangsang yang umum digunakan adalah ovaprim. (suplayer ovaprim dll). Caranya, tangkap induk betina yang sudah matang gonad; sedot 0,6 ml ovaprim untuk setiap kilogram induk; suntikan bagian punggung induk tersebut; masukan induk yang sudah disuntik ke dalam bak lain dan biarkan selama 10 - 12 jam.
Catatan : penyuntikan dilakukan dua kali, dengan selang waktu 6 jam. Penyuntikan pertama sebanyak 1/3 dosis dari dosis total (atau 0,2 ml/kg induk) dan penyuntikan kedua sebanyak 2/3 dosis total (atau 0,4 ml/kg induk betina). Induk jantan disuntik satu kali, berbarengan penyuntikan kedua dengan dosis 0,2 ml/kg induk jantan.

Penyuntikan dengan hypopisa

Penyuntikan bisa juga dengan larutan kelenjar hypopisa ikan mas. Caranya, tangkap induk betina yang sudah matang gonad; siapkan 2 kg ikan mas ukuran 0,5 kg untuk setiap kilogran induk betina; potong ikan mas tersebut secara vertikal tepat di belakang tutu insang; potong bagian kepala secara horizontal tepat di bawah mata; buang bagian otak; ambil kelenjar hypopisa; masukan kelenjar hipofisa tersebut ke dalam gelas penggerus dan hancurkan; masukan 1 cc aquabides dan aduk hingga rata; sedot larutan hypopisa itu; suntikan ke bagian punggung induk betina; masukan induk yang sudah disuntik ke bak lain dan biarkan selam 10 – 12 jam.
Catatan : penyuntikan dilakukan dua kali, dengan selang waktu 6 jam. Penyuntikan pertama sebanyak 1/3 dosis dari dosis total (atau 0,6 kg ikan mas/kg induk betina) dan penyuntikan kedua sebanyak 2/3 dosis total (atau 1,4 kg ikan mas/kg induk betina). Induk jantan disuntik satu kali, berbarengan penyuntikan kedua dengan dosis 0,6 ml/kg induk jantan.

Pengambilan sperma

Pengambilan sperma dilakukan setengah jam sebelum pengeluaran telur. Caranya, tangkap 1 ekor induk jantan yang sudah matang kelamin; lap hingga kering; bungkus tubuh induk dengan handuk kecil; pijit ke arah lubang kelamin; tampung sperma ke dalam mangkuk plastik atau cangkir gelas; campurkan 200 cc Natrium Clhorida (larutan fisiologis atau inpus); aduk hingga homogen. Catatan : pengeluaran sperma dilakukan oleh dua orang. Satu orang yang memegang kepala dan memijit dan satu orang lagi memegang ekor dan mangkuk plastik. Jaga agar sperma tidak terkena air.

Pengeluaran telur

Pengeluaran telur dilakukan setelah 10 – 12 jam setelah penyuntikan, namun 9 jam sebelumnya dilakukan pengecekan. Cara pengeluaran telur : siapkan 3 buah baskom plastik, sebotol Natrium chlorida (inpus), sebuah bulu ayam, kain lap dan tisu; tangkap induk dengan sekup net; keringkan tubuh induk dengan handuk kecil atau lap; bungkus induk dengan handuk dan biarkan lubang telur terbuka; pegang bagian kepala oleh satu orang dan pegang bagian ekor oleh yang lainnya; pijit bagian perut ke arah lubang telur oleh pemegang kepala; tampung telur dalam baskom plastik; campurkan larutan sperma ke dalam telur; aduk hingga rata dengan bulu ayam; tambahkan Natrium chrorida dan aduk hingga rata; buang cairan itu agar telur-telur bersih dari darah; telur siap ditetaskan.

Penetasan di akuarium

Penetasan telur bawal air tawar dilakukan di akuarium. Caranya : siapkan 20 buah akuarium ukuran panjang 80 cm, lebar 60 cm dan tinggi 40 cm; keringkan selama 2 hari; isi air bersih setinggi 30 cm; pasang tiga buah titik aerasi untuk setiap akuarium dan hidupkan selama penetasan; tebarkan tebar secara merata ke permukaan dasar akuarium; 2 – 3 hari kemudian buang sebagian airnya dan tambahkan air baru hingga mencapai ketinggian semula; 2 hari kemudian beri pakan berupa naupli artemia secukupmnya; lakukan panen pada hari ke tujuh dengan menggunakan gayung plastik; larva ini siap ditebar ke kolam penederan I.

Pendederan I di kolam

Pendederan I bawal air tawar dilakukan di kolam tanah. Caranya : siapkan kolam ukuran 500 m2; keringkan selama 4 – 5 hari; perbaiki seluruh bagiannya; buatkan kemalir dengan lebar 40 cm dan tinggi 10 cm; ratakan tanah dasarnya; tebarkan 5 - 7 karung kotoran ayam atau puyuh; isi air setinggi 40 cm dan rendam selama 5 hari (air tidak dialirkan); tebar 50.000 ekor larva pada pagi hari; setelah 2 hari, beri 1 – 2 kg tepung pelet atau pelet yang telah direndam setiap hari; panen benih dilakukan setelah berumur 3 minggu.

Pendederan I di bak tembok

Pendederan I bawal air tawar bisa juga dilakukan di bak tembok dan plastik. Caranya : siapkan bak tembok atau plastik berukuran panjang 3 m, lebar 1 m m dan tinggi 0,6 m; keringkan selama 2 hari; pasang lima buah 7 buah titik aerasi; pasang 4 buah pemanas air; masukan 100.000 larva hasil dari tempat penetasan; beri pakan berupa naupli artemia sampai hari ketujuh; siphon setiap hari (bersihkan dengan selang) sisa naupli artemia yang tidak termakan; beri pakan cincangan cacing rambut yang sudah dicuci dengan air bersih; siphon setiap hari cacing yang tidak termakan; panen setelah berumur 3 minggu; seleksi benih-benih tersebut dengan ayakan seleksi. Benih yang dipanen berukuran 0,5 – 1,0 inchi.

Pendederan II

Pendederan kedua juga dilakukan di kolam tanah. Caranya : siapkan kolam ukuran 500 m2; keringkan 4 – 5 hari; perbaiki seluruh bagiannya; buatkan kemalir dengan lebar 40 cm dan tinggi 10 cm; ratakan tanah dasar; tebarkan 5 - 7 karung kotoran ayam atau puyuh; isi air setinggi 40 cm dan rendam selama 5 hari (air tidak dialirkan); tebar 30.000 ekor benih hasil pendederan I (telah diseleksi); beri 2 – 4 kg tepung pelet atau pelet yang telah direndam setiap hari; panen benih dilakukan setelah berumur sebulan.

Pendederan III

Pendederan ketiga dilakukan di kolam tanah. Caranya : siapkan kolam ukuran 500 m2; keringkan 4 – 5 hari; perbaiki seluruh bagiannya; buatkan kemalirnya; ratakan tanah dasarnya; tebarkan 2 karung kotoran ayam atau puyuh; isi air setinggi 40 cm dan rendam selama 5 hari (air tidak dialirkan); tebar 20.000 ekor hasil dari pendederan II (telah diseleksi); beri 4 - 6 kg pelet; panen benih dilakukan sebulan kemudian.

Pembesaran

Pembesaran bawal air tawar dilakukan di kolam tanah. Caranya : siapkan sebuah kolam ukuran 500 m2; perbaiki seluruh bagiannya; tebarkan 6 - 8 karung kotoran ayam atau puyuh; isi air setinggi 40 - 60 cm dan rendam selama 5 hari; masukan 10.000 ekor benih hasil seleksi dari pendederan III; beri pakan 3 persen setiap hari, 3 kg di awal pemeliharaan dan bertambah terus sesuai dengan berat ikan; alirkan air secara kontinyu; lakukan panen setelah 2 bulan. Sebuah kolam dapat menghasilkan ikan konsumsi ukuran 125 gram sebanyak 400 – 500 kg.
Pembesaran di keramba jaring apung lapis pertama

Pembesaan bawal air tawar bisa juga dilakukan di kolam jaring apung (KJA). Caranya, siapkan sebuah kolam jaring apung lapis pertama; masukan 300 kg benih hasil pendedera III yang sudah diseleksi; beri pelet setiap hari secara adlibitum (beri saat lapar dan hentikan setelah kenyang; lakukan panen setelah 3 bulan. Sebuah keramba jaring apung dapat meghasilkan ikan konsumsi sebanyak 1,5 – 2 ton.



Tuesday, October 31, 2017

Pengolahan Fish Stick

Pengolahan Fish Stick





 Pendahuluan
Jenis-jenis ikan ekonomis rendah yang masih segar dapat kita peroleh dengan mudah di pasaran dengan harga terjangkau. Produk olahan dari jenis ikan ini masih terbatas macamnya.
Salah satu alternatif yang dapat kita gunakan dalam diversifikasi produk olahan adalah dengan menggunakan ikan tersebut sebagai bahan baku dalam pembuatan camilan ikan yang disebut Fish Stick.
Fish Stick ini mempunyai rasa yang gurih dan renyah, sehingga disukai oleh anak-anak maupun orang dewasa.

Alat yang digunakan
          Pisau, talenan, ulekan, baskom, wajan, kompor, penggiling daging, penggiling mie, serokan.
Bahan yang Digunakan
a.    Bahan Baku :
1. Daging ikan yang telah dilumatkan sebanyak 300 gram.

b.    Bahan dan Bumbu :
1. Tepung terigu              : 1.000 gram
2. Tepung tapioka            : secukupnya
3. Tepung maizena           : 200 gram
4. Garam                          : 1 sdm
5. Daun jeruk purut         : 5 lembar
6. Seledri                       : secukupnya
7. Telur                          : 2 butir
8. Baking soda                  : 1 sdt
9. Mentega                      : 2 sdm
10. Lada halus                  : 1 sdt
11. Ketumbar halus           : 2 sdm


Langkah Kerja
a.     Daging ikan yang telah di fillet kemudian dilumatkan. Pelumatan daging ini dapat dibantu dengan food processor. Atau dapat diblender tanpa menggunakan air.
 








b.    Haluskan bawang putih.
c.     Iris halus daun seledri.
 








d.    Campurkan daging ikan yang sudah dilumatkan dengan seledri yang sudah diiris, tepung terigu, bumbu halus, garam, telur dan baking soda.
 








e.    Aduk adonan tersebut sampai kalis dan bisa dicetak.
f.     Bila adonan terlalu lengket, maka dapat ditambah dengan tepung tapioka.
g.    Tipiskan adonan sampai membentuk lembaran-lembaran.




 







h.    Cetak atau dapat dipotong kecil-kecil sesuai selera.
 








i.      Lalu goreng sampai kecoklatan.

j.     Pengemasan dapat dilakukan dengan kantong plastik.

Pengolahan Dendeng Daging Ikan Lumat

Pengolahan Dendeng Daging Ikan Lumat

 Pendahuluan
Dendeng daging ikan yang dilumatkan merupakan produk olahan tradisional yang mempunyai cita rasa dan aroma khas, prinsip pengolahannya adalah dengan membuat adonan daging ikan yang dicampur dengan bumbu-bumbu seperti garam, gula, asam, dan bumbu lainnya yang kemudian dibentuk menjadi lembaran tipis dan kemdian dijemur atau dimasukkan ke dalam oven.

Alat yang digunakan
a.     Pisau
b.     Talenan
c.     Pemipih adonan/botol bekas yang higienis
d.     Loyang
e.     Baskom
f.     Lembaran Plastik
Bahan yang Digunakan
a.    Bahan Baku :
1. Daging ikan yang telah dilumatkan sebanyak 1.000 gram. Ikan air tawar yang dapat diolah menjadi dendeng seperti ikan nila, patin atau lele.

b.    Bumbu :
1. Gula putih                              : 100 gram
2. Gula merah                   : 100 gram
3. Garam                          : 50 gram
4. Asam Jawa                  : 50 gram
5. Ketumbar                    : 15 gram
6. Lengkuas                     : 25 gram
7. Jahe                            : 5 gram
8. Bawang merah              : 50 gram
9. Bawang putih               : 50 gram


Langkah Kerja
a.     Daging ikan yang telah di fillet kemudian dilumatkan. Pelumatan daging ini dapat dibantu dengan food processor. Atau dapat diblender tanpa menggunakan air.
b.    Haluskan semua bumbu-bumbu yang ada. Setelah halus, campurkan bumbu-bumbu tersebut ke dalam daging yang telah dilumatkan. Aduk adonan tersebut sampai merata.
 
c.     Setelah adonan merata, maka langkah selanjutnya adalah mencetak adonan dalam loyang yang telah diberi alas berupa lembaran plastik.
d.    Adonan yang telah dimasukkan dalam loyang dipipihkan menggunakan pemipih adonan yang terbuat dari kayu atau dapat juga menggunakan botol bekas sirup yang sudah dicuci bersih dan higienis. Pipihkan adonan hingga permukaannya rata. Adonan dipipihkan sampai ketebalan + 0,5 cm.
e.    Setelah dipipihkan, adonan dalam loyang tersebut dapat segera dikeringkan dengan cara dijemur di bawah sinar matahari atau dimasukkan dalam oven pada suhu 80-900C sampai adonan kering.
f.     Setelah adonan kering, potong-potong adonan tersebut hingga menyerupai lembaran-lembaran.
g.    Pengemasan dapat dilakukan dengan kantong plastik.
h.    Untuk penyajian, goreng dendeng tersebut dalam api sedang hingga berwarna kecoklatan.


















Sambal Tuna Dalam Botol

Sambal adalah olahan turunan dari bahan baku cabe yang dicampur dengan bahan lain dan ikan juga bisa de...